"Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan." (1 Yohanes 2:10)
Perselisihan atau pertengkaran terjadi lebih banyak di antara teman
akrab, pasangan, saudara atau keluarga dibandingkan dengan orang yang
tidak atau kurang kita kenal. Itu adalah fakta yang sulit untuk
dibantah. Percikan-percikan api kecil bisa timbul setiap saat, dan
kekecewaan yang berlebihan bisa membuat kita cepat tersinggung. Kita
cenderung mengharapkan orang-orang yang terdekat sebagai manusia yang
sempurna, yang menurut kita tidak boleh sedikitpun membuat kesalahan.
Kita lupa bahwa sedekat apapun mereka tetaplah manusia yang bisa berbuat
salah pada suatu ketika. Tersinggung, lalu sakit hati, tidak jarang
menjadi dendam dan sulit untuk memaafkan. Seorang Pendeta pernah
bercerita bahwa ia sudah menjumpai begitu banyak kasus kepahitan yang
berasal dari perselisihan dengan orang-orang terdekat. Suami dan istri
bercerai, orang tua tidak mau lagi mengakui anaknya, anak yang
meninggalkan orang tuanya, sesama saudara kandung yang ingin saling
menghancurkan dan mencelakakan, itu semua semakin tidak sulit kita lihat
akhir-akhir ini. Bukannya semakin baik, tetapi manusia justru semakin
menjadi orang-orang eksklusif, absolut, tidak mau kalah dan selalu
merasa benar. Semakin lama manusia semakin menikmati kebencian, semakin
sulit mengampuni, cenderung lebih memilih memperpanjang perbedaan dan
terus bertikai ketimbang mencari jalan penyelesaian dan berdamai. Bahkan
tidak jarang pula kita mendapati pertumpahan darah justru di kalangan
keluarga atau saudara sendiri. Ini adalah hal yang memprihatinkan.
Bisakah anda bayangkan betapa sedihnya hati Tuhan melihat
perilaku-perilaku seperti ini?
Ada banyak orang mengaku bahwa mereka ada dalam terang. "Tentu saja saya
dalam terang. Bukankah saya menerima Yesus? Itu artinya saya ada dalam
terang, dong..." itu ada dalam benak banyak orang tanpa berpikir panjang
atas cara hidup atau sikap hati mereka. Bersama Terang Dunia, memang
kita seharusnya pun berada dalam terang. Bukan cuma berada dalam terang,
tetapi seharusnya kita pun menjadi terang bagi banyak orang. Seperti
itulah kita seharusnya, seperti yang dikatakan Yesus dalam Matius
5:14-16. Tetapi perhatikanlah bahwa Yohanes menyinggung hal ini dengan
tegas. Tolok ukur apakah kita berada dalam terang atau tidak
sesungguhnya tergantung dari satu hal penting, yaitu sejauh mana kita mengasihi saudara kita. Perhatikanlah ayat berikut ini: "Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan." (1 Yohanes 2:10). Hal ini ia katakan melanjutkan sebuah seruan yang mungkin kontroversial bahkan bagi sebagian orang hari ini: "Barangsiapa
berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci
saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang." (ay
9). Jangan mengaku dalam terang jika masih menyimpan kebencian atau
dendam terhadap saudaramu sendiri. Seperti itulah kira-kira seruan
Yohanes. Mari kita lanjutkan satu ayat lagi setelahnya: "Tetapi
barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup
di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu
telah membutakan matanya." (ay 11).
Mengapa Yohanes bisa berkata seperti itu? Alasannya jelas. Waktu-waktu
yang ia jalani bersama Yesus telah membuktikan sendiri bagaimana Yesus
mengasihi manusia tanpa pamrih, tanpa batas. Dari situ ia tahu betul
bahwa Allah bukan saja penuh kasih, tetapi Allah adalah kasih itu sendiri. Oleh sebab itulah Yohanes bisa berkata dengan tajam bahwa "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih."
(1 Yohanes 4:8). Tidak mengenal Allah, itu artinya berada di dalam
gelap. Kita mengaku percaya kepada Kristus, tetapi kita tidak mengenal
pribadiNya sebagai kasih, itu artinya kita tidak berada di dalamNya.
Dengan kata lain, tidak mengasihi berarti kita tidak berada di dalam
terang, melainkan masih terkurung jauh di dalam gelap. Dan jelas, berada
dalam kegelapan akan membuat kita terus terpengaruh terhadap banyak
penyesatan.
Berulang kali Yesus sudah mengingatkan kita akan pentingnya mengasihi
saudara-saudara kita dan berhenti menabur atau mempertahankan kebencian.
Lihat bagaimana jawaban Yesus dalam menanggapi pertanyaan Petrus akan
jumlah maksimal dalam memberi pengampunan terhadap perbuatan dosa yang
dilakukan oleh saudara sendiri. "Kemudian datanglah Petrus dan berkata
kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni
saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus
berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh
kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." (Matius
18:21-22). Tujuh puluh kali tujuh kali, menunjukkan jumlah yang tidak
terbatas dalam memberi pengampunan. Lebih lanjut bahkan dikatakan bahwa
adalah percuma buat kita berdoa apabila masih menyimpan ganjalan, sakit
hati, kebencian atau dendam terhadap orang lain. "Dan jika kamu
berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu
dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga
mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Markus 11:25). Tidak mau mengampuni orang lain, maka Tuhan pun tidak akan mau mengampuni kita. (ay 26).
Seringkali kita berdalih dan mengatakan, "untuk apa saya mengampuni
sementara ia tidak juga mengakui kesalahannya?" Soal mengampuni
sesungguhnya berasal dari kita, bukan tergantung dari orang lain.
Apabila kasih Kristus benar-benar mengalir dalam hidup kita, itu akan
mendatangkan terang yang membuat kita bisa memberi pengampunan. Ada pula
yang berdalih, "tetapi ia sudah sangat keterlaluan, bagaimana mungkin
bisa dimaafkan?" Itupun tidak cukup menjadi alasan bagi kita untuk
mendendam. Kurang apa penderitaan yang dialami Yesus? Penyiksaan di luar
batas perikemanusiaan, yang dilakukan oleh manusia yang katanya
beradab, dipaku kaki dan tangannya, dipasangi mahkota duri hingga mati
di atas kayu salib, itu merupakan sebuah siksaan dengan hinaan yang luar
biasa kejinya. Tapi apa yang dilakukan Yesus? Di atas kayu salib itu
Yesus masih meminta pengampunan buat para penyiksanya! "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."
(Lukas 23:34). Apakah pada saat itu mereka sudah menyadari kesalahan
mereka dan mohon ampun? Tidak. Tapi Yesus tetap menyerukan pengampunan.
Ini adalah hal luar biasa yang seharusnya bisa menjadi teladan untuk
kita semua. Tidak satupun kita ingin binasa. Kita mungkin telah berbuat
dosa yang sangat besar, tetapi Tuhan tetap mau mengampuni meski
kesalahan kita sudah sedemikian buruknya sekalipun. Jika Tuhan saja mau
berbuat demikian, siapakah kita yang merasa punya hak lebih untuk bisa
tidak mengampuni?
Adalah penting bagi kita untuk menjaga kondisi hati kita setiap saat. Mengapa hati? "sebab
dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan,
pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan,
hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." (Markus 7:21-22). Dan, "Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."
(ay 23). Mengampuni itu merupakan kewajiban bagi kita dan bukan sesuatu
yang bisa kita pilih-pilih. Mengasihi saudara kita, terlepas dari
kekurangan-kekurangan mereka, itulah yang membuktikan apakah kita berada
di dalam terang atau tidak, apakah kita masih di jalan yang benar untuk
memperoleh segala janji Allah atau tidak. Adakah orang yang masih anda
ikat dengan kebencian di dalam hati anda? Adakah orang yang anda anggap
belum layak untuk anda ampuni? Berikan pengampunan sekarang juga. Jika
anda tidak sanggup, berdoa dan mintalah Roh Kudus untuk memampukan anda.
Jangan biarkan diri anda terus berada dalam kegelapan. Terang tengah
menanti kehadiran anda saat ini juga. Masuklah segera ke dalamnya.
Kita tidak akan pernah hidup dalam terang selama kebencian masih ada
Senin, 12 Juni 2017
Pentingnya Menghargai Orang Lain
Kita tidak dapat hidup sendirian,
selalu membutuhkan orang lain. Namun terkadang prinsip yang kita pegang tidak
sejalan dengan prinsip orang lain. Yang akhirnya menimbulkan perasaan tidak
nyaman di hati bahkan kadang sampai terjadi permusuhan atau persaingan. Apalagi
jika kita adalah tipe orang yang sangat ketat menjaga prinsip. Sebenarnya
permasalahan ini sangat mungkin terjadi pada semua orang, dan masalah ini
solusinya ada pada diri kita masing-masing. Kita tidak mungkin lari dari diri
kita sendiri.
Bagi orang dengan tipe pemegang
prinsip kuat, permasalahan ini harus segera mendapat perhatian dan fokus
mencari solusinya. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah
kesadaran diri sendiri bahwa kita harus dan wajib merubah diri sendiri menjadi
lebih fleksibel, lebih memprioritaskan untuk lebih menghargai orang lain bahkan
kepada saingan atau musuh.
Beberapa hal yang akan didapatkan
jika kita bisa meningkatkan kemampuan menghargai orang lain,
- Menghargai orang lain bukan berarti kita menunjukkan kelemahan kita.
Sejak dahulu, masih banyan yang
mengajarkan bahwa sikap penghormatan kepada musuh akan menunjukkan kita lemah.
Malah sebaliknya, jika kita tetap bisa hormat kepada saingan kita, kita akan
semakin merasa percaya diri, dan tidak ada celah bagi saingan untuk menjatuhkan
kita. Kelemahan sesungguhnya adalah ketika kita menunjukkan sikap negative dan
melukai perasaan orang lain. Memang memulai hal ini sangatlah berat, namun jika
secepatnya dimulai, dan dilatih bertahap, maka akan terasa mudah dan kebiasaan
kita menghargai orang lain akan berimbas baik juga untuk diri kita.
- Menjadi lebih berpengalaman.
Seorang saingan merupakan guru
kehidupan yang sangat baik, begitu juga dengan kesulitan-kesulitan kehidupan
lainnya. Setiap manusia mempunyai pilihan untuk berbuat positif maupun negatif.
Sayangnya sering manusia membiarkan dirinya melakukan hal negatif.
Kita harus berhati-hati dengan
ucapan dan tindakan kita, karena jika tidak hati-hati akan menjerumuskan kitqa
ke perangkap kemarahan terhadap orang lain. Banyak orang sukses yang bisa
menahan amarah, bahkan berterima kasih kepada saingan dan musuh mereka.
- Sikap menghargai orang lain merupakan nilai manusia yang terbaik di dunia, tak ternilai harganya. Dimanapun dan kemanapun kita bepergian, jika kita selalu bersikap menghormati dan menghargai orang lain, maka hati orang lain akan terbuka dan akan berbalik menghoramati kita.
Penghormatan tidak dapat dibangun
dengan ancaman dan kekerasan. Ketaatan dan rasa hormat memiliki sesuatu yang
sama, tetapi berbeda. Rasa hormat hanya ada dalam hubungan yang dibangun di
atas saling pengertian dan kebajikan. Perusahaan yang mengutamakan rasa hormat,
biasanya akan lebih berhasil disbanding hanya mengutamakan kepatuhan dan
ketakutan.
- Rasa menghargai dan menghormati, meredam permusuhan.
Jika kita selalu berpikir “membunuh”
pesaing atau musuh, tidak akan pernah ada caranya. Akan selalu muncul
musuh-musuh baru. Manusia adalah makhluk sosial, hidup di dunia yang beradab
harus saling bekerjasama.
Kita semua tahu bahwa musuh terbesar
kita adalah diri kita sendiri, namun sering kita tidak mau atau sulit untuk
menerapkan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari kita.
5.
Langganan:
Komentar (Atom)
